Pihak agresor Israel mengumumkan bahwa 2 masjid bersejarah di daerah Tepi Barat dimasukkan dalam daftar situs sejarah milik Yahudi, memicu kemarahan Palestina dan organisasi lain yang tidak suka.

“Pengumuman ini adalah sebuah tindakanagresi terhadap hak berbudaya dan beragama rakyat Palestina,” demikian jelas Hamdan Taha, direktur Turisme Palestina kepada kantor berita Maan, Senin 22 Februari.

Sebelumnya pada hari Ahad, 21 Februari, PM Israel Binyamin Netanyahu mengumamkan masjid Ibrahim di kota Al Khalil, Hebron dan masjid Bilal di Al Quds sebagai bagian dari 150 warisan budaya Yahudi yang akan direnovasi dan disesuaikan dengan sejarah Israel.

Pada awalnya 2 masjid ini tidak termasuk dalam daftar rencana asli yang dikeluarkan Netanyahu pada 3 Februari lalu.

Dibangun pada tahun 635, masjid Ibrahim adalah salah satu masjid tua di Palestina. Namun ekstrimis Yahudi mengklaim bahwa 2 masjid tersbeut merupakan dari kuburan kuno Patriach dan Rachel.

“Tidak menggunakan warisan budaya untuk perdamaian, malah digunakan untuk mengajak perang,” tegas Taha.

Menurutnya pencatutan 2 masjid milik umat Islam ini merupakan usaha yang disengaja sebagai bagian dari okupasi Yahudi Israel terhadap wilayah Palestina di Tepi Barat.

Penduduk Palestina di Al Khalil mengadakan unjuk rasa menentang keputusan Israel tersebut. Walikota Al Khalil, Kahles Al Eseili meminta UNESCO untuk segera bereaksi melindungi status warisan budaya Islam ini.

Lebih lanjut menurut walikota, hukum internasional seperti Konvesi Den Haag, menyatakan bahwa pihak penjajah dilarang merusak warisan sejarah negara yang dia jajah.
[muslimdaily.net/IOL]

Ditulis dalam Internasional News