Kartini, nama yang tidak asing bagi bangsa Indonesia. Hari lahirnya pada tanggal 21 April 1879 diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Emansipasi Perempuan. Tidak hanya sebagai pejuang hak-hak perempuan, Kartini juga dikenal sebagai penulis yang cerdas.

Ia meninggal bukan karena kegagalan memperjuangkan hak-hak perempuan, tetapi karena ketidakmampuan bertahan sebagai ibu yang sedang mengandung dan melahirkan anaknya di tengah-tengah keterbatasan bantuan medis.

Kisah perjuangan Kartini banyak dikenang sebagai upaya untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan Indonesia. Kehebatan Kartini adalah kemampuannya memikirkan nasib perempuan yang dirasakan tidak adil dalam berbagai dimensi kehidupan baik di tingkat keluarga, masyarakat, maupun negara. Ia menyadari bahwa persoalan yang mendasar adalah kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang tidak sama antara laki-laki dan perempuan.

Sangat disayangkan sekali karena tidak banyak diketahui pemikiran Kartini tentang masalah kesehatan perempuan. Seandainya Kartini memperoleh pengetahuan tentang Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) seperti sekarang, ia mungkin menjadi tokoh terdepan dalam melawan pernikahan di usia muda. Kenyataannya adalah ia menjadi contoh nyata korban pernikahan di usia muda. Walaupun bayi yang dilahirkannya selamat, namun ia harus kehilangan nyawa.

Perdarahan setelah persalinan yang dialaminya masih banyak dialami oleh perempuan di Indonesia. Berdasarkan data Departemen Kesehatan (Depkes RI), Angka Kematian Ibu (AKI) masih berkisar 300 per 100 000 kelahiran hidup dan sebagian besar disebabkan oleh perdarahan, infeksi, dan eklampsia.

Yang menjadi perhatian serius adalah banyaknya kasus kehamilan yang tidak diinginkan dan komplikasi aborsi. Oleh karena sulitnya mendeteksi kasus aborsi, Depkes hanya bisa memperkirakan sekitar 2 juta kasus setiap tahunnya dan sekitar 20% sampai 30% dilakukan oleh para remaja.

Perdarahan sebagai komplikasi aborsi merupakan salah satu penyebab ‘terselubung’ yang sangat besar kemungkinannya mengakibatkan kematian pada perempuan yang mengandung. Kartini memang tidak melakukan aborsi, namun perdarahan setelah persalinan yang tidak dapat tertangani juga dapat terjadi pada kasus aborsi.

Pada jaman Kartini, sangat jarang ataupun tabu untuk melakukan tindakan aborsi. Kungkungan adat Jawa mengharuskan perempuan lebih banyak menerima nasib ketika dipaksa menikah pada saat remaja sehingga kehamilan di usia dini sering terjadi.

Perubahan berbagai aspek kehidupan tidak banyak berpengaruh terhadap nilai-nilai patriarkis di masyarakat yang telah berakar sebelum Kartini dilahirkan. Ada mitos sebagai upaya membujuk paksa perempuan untuk melakukan hubungan seks secara ‘suka sama suka’, bahwa hubungan seks yang dilakukan sekali takkan menyebabkan kehamilan.

Akibatnya ketika kehamilan terjadi banyak remaja perempuan melakukan aborsi oleh karena kehamilan yang tidak diinginkan. Ketika memilih menjalani kehamilan dini, perempuan dihadapkan pada risiko kematian ibu yang lebih besar pada saat melahirkan.

Di sisi lain, arus globalisasi dan westernisasi mengakibatkan terjadinya distorsi perjuangan Kartini dalam membela hak-hak kaumnya. Paham liberalisasi mengakibatkan runtuhnya struktur keluarga dan meningkatnya angka perceraian, merebaknya free sex, dan pelecehan seksual yang sangat bertentangan dengan inti dari perjuangan Kartini. Dalam masalah kesehatan ibu dan anak, hal ini mengakibatkan meningkatnya kasus aborsi dan penularan penyakit seksual terutama HIV-AIDS.

Pelecehan seksual mungkin juga terjadi pada kaum perempuan pada jaman Kartini. Kebanyakan perempuan telah dipingit sebelum berusia 12 tahun. Namun juga karena paham liberalisasi, kejadian pernikahan di usia dini justru lebih mengerikan pada jaman sekarang. Beberapa penelitian membuktikan bahwa sekitar 30% perempuan di bawah 16 tahun di beberapa kota besar telah melakukan hubungan seks di luar nikah.

Keterlambatan bantuan medis

Kartini melahirkan anaknya pada saat berusia 25 tahun. Usia itu merupakan usia yang sangat matang untuk menjadi seorang ibu. Namun Kartini meninggal oleh karena lambatnya bantuan medis untuk menghentikan perdarahan yang terjadi.

Kejadian keterlambatan bantuan medis masih sering terjadi di berbagai pelosok negeri kita. Di beberapa daerah sangat terpencil, pondok bersalin desa (polindes) telah banyak ditinggalkan para bidan oleh karena kurangnya dukungan moril dan materil dari pemerintah terhadap kesejahteraan bidan di desa.

Bidan lebih banyak bekerja di puskesmas oleh karena fasilitas bekerja yang lebih memadai. Akibatnya masyarakat yang tinggal di desa yang jauh dari jangkauan puskesmas kurang mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik dan cepat, terutama kesehatan ibu dan anak. Kartini memang tidak sempat menyesali apa yang telah terjadi pada dirinya saat melahirkan.

Namun kisah Kartini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi pemerintah kita dalam membuat kebijakan peningkatan kesehatan ibu dan anak. Seandainya di setiap desa di Indonesia memiliki polindes dan memiliki bidan, AKI bisa jauh lebih rendah dari target yang diperkirakan.

Anak yang dilahirkan Kartini memang dapat diselamatkan, namun sangat disayangkan ia dibesarkan tanpa ibu kandung. Padahal ibunya sangat pintar, rajin, dan pendidik. Jika pada waktu itu Kartini dapat diselamatkan, anak yang dilahirkan dan dibesarkan dengan kasih sayangnya tentu akan menjadi generasi penerus bangsa yang ‘mungkin’ lebih hebat dari Soekarno dan Hatta. Jika Kartini dapat diselamatkan, ia mungkin akan menyadari dan berjuang agar fasilitas kesehatan bagi ibu dan anak lebih dapat ditingkatkan.

Kartini memang tidak banyak mengetahui persoalan kesehatan ibu dan anak, namun kisah hidupnya menjadi contoh nyata pentingnya kesehatan ibu dan anak. Kartini adalah korban keterlambatan bantuan medis.

Kartini merupakan pelajaran terbaik bagi aktifis perempuan sekarang untuk menyadari pentingnya upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak. Kepahlawanan Kartini tidak hanya sebatas memperjuangkan hak-hak perempuan, namun pada hak yang lebih asasi adalah hak untuk hidup dan membesarkan anaknya.

Hal yang sangat penting bagi kesehatan anak adalah mendapatkan kasih sayang dari ibu serta mendapatkan Air Susu Ibu (ASI). Peran kasih sayang ibu dan ASI sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Jika Kartini dapat terselamatkan, ia pasti telah merencanakan untuk memberikan kasih sayang dan ASI kepada bayi yang dilahirkannya.

Namun apa daya, Kartini hanya sempat melihat bayinya kurang dari lima hari. Kartini melahirkan pada tanggal 13 September 1904 dan meninggal dunia pada tanggal 17 September 1904.

Hari kesehatan ibu dan anak

Akankah kaum perempuan di pelosok negeri kita masih bernasib sama dengan Kartini? Dan akankah kaum perempuan masih tidak mau tahu tentang persoalan kesehatan ibu dan anak? Mengingat kisah hidupnya, penulis menyarankan kepada pemerintah untuk menetapkan tanggal 21 April atau 13 September (saat Kartini melahirkan anaknya) sebagai Hari Kesehatan Ibu dan Anak dan menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kesehatan Ibu dan Anak.

Dengan memperingati Hari Kesehatan Ibu dan Anak (di samping Hari Kartini yang saat ini sedang kita peringati), upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak lebih dapat diprioritaskan. Pentingnya Hari Kesehatan Ibu dan Anak diperingati setiap tahunnya agar terbentuk kesadaran bersama bagi kaum perempuan, masyarakat, dan pemerintah untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak. ***** ( Rizky Adriansyah : Penulis adalah Ketua Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Cabang Medan )

sumber : Edy Rachmad