Sebuah ledakan terjadi di pangkalan militer NATO di ibukota Afghanistan, Kabul, pada hari Jumat (13/11). Ledakan itu mengakibatkan tiga tentara asing dan tiga warga sipil cedera.

Para pejabat Afghanistan mengatakan bom mobil itu mengincar sebuah kendaraan pasukan koalisi di dekat Kamp Phoenix, lokasi tempat pelatihan pasukan Afghanistan.

Atas ledakan ini, kelompok pejuang Taliban mengaku bertanggung jawab dan mengatakan bom mobil itu adalah sebuah aksi bom syahid.

Kewalahan mengadapi pejuang Taliban di Afghanistan, telah mendorong Perdana Menteri Inggris Gordon Brown, membujuk sekutu-sekutu militernya untuk mengirim 5.000 tentara lagi.

Brown mengatakan ia telah mulai melakukan usaha diplomatik untuk mendorong para anggota koalisi pasukan bantuan keamanan internasional (ISAF) yang dipimpin NATO berbagi beban tempur dan membantu melatih serdadu Afghanistan.

“Saya bertanggungjawab untuk meminta negara-negara lain di Eropa dan luar Eropa jika mereka mendukung strategi kemitraan pasukan Afghanistan, melatih pasukan Afghanistan,” kata Brown kepada radio BBC.

“Saya meminta mereka membantu, saya kira kami mungkin dapat 5.000 tentara tambahan untuk Afghanistan dari NATO dan luar NATO dan Inggris akan merupakan bagian dari itu.”

Desakan diplomatik itu datang ketika para pejabat NATO bertemu di Edinburgh dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama terus mempertimbangkan opsi-opsi untuk menambah pasukan AS di Afghanistan, berkisar antara 10.000 sampai 40.000 personil .

Inggris telah mengatakan mereka siap mengirim 500 tentara lagi untuk bergabung dengan 9.000 tentara yang sudah ditempatkan di Afghanistan.

Lebih dari 100.000 tentara Barat berada di Afghanistan, 67.000 tentara berasal dari Amerika Serikat. (bbc/antara/shodiq)