Penyanyi pop melankolin legendaris ini meninggal dunia Jumat 30 Maret 2007 pukul 04.08 di rumahnya Jalan Asem Dua No 80, Cipete, Jakarta. Chrisye bernama lengkap Chrismansyah Rahadi kelahiran Jakarta, 16 September1949, itu sudah lama menderita sakit kanker paru-paru. Jenazahnya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, Jakarta Selatan.

Berpulangnya Chrisye tak hanya meninggalkan duka bagi istrinya, Gusti F. Damayanti Noor, dan keempat anaknya Rizkia Nurannisa (Nissa), Risti Nurraisa (Risty), si kembar Rainda Prashatya (Pasha) dan Randa Pramasya (Masha), tapi juga sahabat dan teman sesama musisi, di antaranya Erros Djarot yang berteman dengan Chrisye sejak 1970-an dan Guruh Soekarnoputra.

Karir Bermusik
Chrisye yang memang hobi bermain musik, merintis karir di dunia musik dengan bergabung dalam band Sabda Nada 1968. Band yang berdiri 1966 dengan formasi awal Ponco Sutowo, Gaury Nasution, Joe-Am, Eddy, Edit, Roland, dan Keenan Nasution. Kemudian 1969, band itu bermetamorfosis menjadi Gipsy Band dengan perubahan personel.

Gipsy diawaki Gauri Nasution (gitar), Onan (keyboard), Tammy (terompet/sax), Keenan Nasution (drum), Chrisye (bas), dan Atut Harahap (vokalis). Gipsy menjadi band dari Jakarta yang cukup disegani dan memiliki peralatan paling mewah pada zamannya. Mereka pernah menggelar Gipsy Concert di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 1970.

Pada 1971, formasi personel band berubah, dengan masuknya Adji Bandi, Lulu, dan Rully Djohan. Pada tahun itu, Gipsy berangkat ke New York dan menjadi homeband di Ramayana Restaurant selama kurang lebih satu tahun (1971-1972).

Ketika masih di New York, Chrisye bergabung dengan band The Pro’s bersama Broery Marantika, Dimas Wahab, Pomo, Ronnie Makasutji, dan Abadi Soesman. The Pro’s juga merupakan salah satu homeband yang mengisi acara di Ramayana Restaurant.

Tak beraapa lama ke Indonesia. Chrisye bersama Gipsy berkolaborasi dengan Guruh Soekarno Putra melahirkan sebuah album rekaman rock yang sangat luar biasa: Guruh Gipsy. Album itu memadukan unsur-unsur tradisional gamelan Bali dan instrumen konvensional.

Setelah itu, Chrisye bersolo karir dan menghasilkan album-album rekaman dengan materi lagu-lagu yang ditulisnya sendiri maupun oleh teman-teman dekatnya. Pada 1977, Chrisye berhasil memoulerkan tembang Lilin-Lilin Kecil karya James F. Sundah dan memenangkan Lomba Karya Cipta Lagu Remaja Prambors (LCLR).

Berjalan dengan warna pop slow melankolin, karir Chrisye sebagai penyanyi semakin berkibar di belantika musik Indonesia. Album Badai Pasti Berlalu, Sabda Alam, dan hampir semua album yang dikeluarkannya berhasil di pasaran.

Pada 1986, Chrisye mencoba warna musik yang agak berbeda. Hasilnya adalah album Aku Cinta Dia dan Hip Hip Hura. Album tersebut terjual laris dan menjadi hit di banyak tangga terpopuler di Indonesia, meski sebenarnya Chrisye merasa tidak cocok untuk membawakan lagu dengan beat (tempo) cepat.

Selain berhasil sebagai penyanyi, Chrisye pernah mencoba untuk tampil di layar lebar, yakni dalam film Seindah Rembulan bersama Iis Sugianto. Juga, tampil sebagai bintang tamu dalam film Gita Cinta dari SMA. Walau pernah tampil di layar perak, Chrisye mengaku tidak pandai berakting dan bergaya. Karena itu, tidak jarang dalam penampilannya di televisi atau panggung, Chrisye tak terlalu banyak bergerak.

Pada 2002, Chrisye merilis album yang diberi titel Dekade. Pada 12 Juli 2003, Chrisye mengadakan konser bersama arranger Erwin Gutawa (yang juga bertindak sebagai produser) dengan tajuk yang sama dengan albumnya di JICC. Chrisye benar-benar menggoyang Jakarta. Sebab, dia tak cuma berjoget di atas pentas, namun juga karena hadirnya beberapa penyanyi dan musisi yang mengiringinya menyanyi. Seperti, Fariz R.M., A. Rafiq, Sophia Latjuba, dan Ari Lasso.

Pada Oktober 2004, Chrisye melepas album Senyawa, sebuah album kolaborasi unik. Lewat album itu, Chrisye mencoba menjadi vokalis dari berbagai grup musik papan atas di tanah air.

Sebuah kabar yang menyedihkan terdengar pada Agustus 2005. Chrisye harus beristirahat total dari semua kegiatan menyanyi, baik di studio maupun panggung. Chrisye didiagnosis mengidap penyakit kanker paru-paru.

Setelah menjalani kemoterapi enam kali di Singapura, kesehatannya mengalami banyak kemajuan. Hampir satu tahun absen dari gemerlapnya panggung dan televisi, pada Minggu, 28 Mei 2006, di stasiun TV Indosiar, Chrisye memulai debut menyanyinya kembali di depan umum. Kali ini Chrisye tampil sebagai bintang tamu dalam acara 1 Jam Bersama UNGU.

Karena kondisi kesehatan, Chrisye pun kembali jarang tampil. Namun, sel-sel kanker yang terus menggerogoti tubuhnya tak pernah mampu menggerus semangat bermusiknya. Pada 16 September tahun lalu, tepat saat ulang tahunnya yang ke-57, Chrisye merilis sebuah album kompilasi pop religi Damai Bersama-Mu bersama Erwin Gutawa. Chrisye membawakan dua lagu, Shalawat Badar dan Thala’al Badru Alaina.

“Sudah lama saya ingin hadir lagi di belantika musik. Sejak sakit, saya belum menghasilkan apa-apa. Sedih kalau tidak bisa berkarya. Tapi, Alhamdulillah saya bisa melanjutkan album yang sebelumnya terhenti,” kata Chrisye saat itu.

Dimakamkan di TPU Jeruk Purut

Jenazah penyanyi pop legendaris ini, dimakamkan di Blok AA1 Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat 30 Maretr 2007 siang, dalam suasana keharuan yang amat mendalam dan gerimis berkepanjangan selama prosesi pemakaman.
Banyak pelayat, di antaranya penyanyi legendaris Titiek Puspa tak henti-hentinya meneteskan air mata selama mengikuti upacara pemakaman. Artis lain yang juga ikut di pemakaman antara lain: Shania, Ahmad Albar, dan Ikang Fawzi. Mereka terlihat merasakan duka cita yang amat mendalam atas kepergian Chrisye.
Jenazah artis bernama asli Chrismansyah Rahadi dan suami dari Damayanti Noor dan ayah empat anak tersebut dibawa dari rumah duka di Jalan Asem II Nomor 80, Cipete, Jakarta Selatan, ke TPU Jeruk Purut dengan kendaraan ambulans Yayasan Bung Kamboja diiringi ratusan pelayat yang mengantar jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.
“Chrisye adalah keajaiban yang tidak akan pernah kembali,” kata musisi Erwin Gutawa, salah satu kerabat almarhum yang memberikan sambutan pada upacara pemakaman itu. Erwin mengaku sangat bangga bisa mengenal Chrisye, sekaligus sedikit menyesalkan satu permintaan Chrisye kepada dia yang belum dapat terpenuhi, yakni mengerjakan album “Salawat Nabi”. ► e-ti (Sumber: Graha Maya Chrisye dan lain-lain)