Dua wanita Muslimah Inggris tidak diizinkan naik pesawat ke Pakistan setelah menolak untuk menjalani pemindaian seluruh tubuh di bandara Inggris, the Express mengabarkan pada Kamis, 4 Maret.

“Dua penumpang wanita yang telah membeli tiket untuk terbang dari Terminal Dua menolak ketika akan dipindai/scan karena alasan medis dan agama,” kata seorang juru bicara Bandar Udara di Manchester.

“Sesuai dengan petunjuk pemerintah pada proses pemindaian, mereka tidak diizinkan untuk terbang.”
Ingrris telah memasang pemindai tubuh yang tembus pandang di bandara-bandara setelah usaha pengeboman yang gagal pada bulan Desember oleh seorang muda Nigeria pada sebuah pesawat di Detroit, AS.

Pemindai atau scanner tersebut juga dikenal sebagai scanner tubuh telanjang, sebab menampilkan gambar telanjang penumpang yang memungkinkan staf keamanan untuk mengidentifikasi barang-barang yang tersembunyi di dalam pakaiannya atau yang menempel di tubuhnya.

Tetapi dua wanita muslimah tersebut menolak untuk menjalani pemindaian badan penuh.
Dewan Fiqh Amerika Utara (FCNA) telah mengkritik scanner itu sebagai pelanggaran terhadap ajaran-ajaran agama pada kesusilaan tidak hanya dalam Islam tetapi dalam semua agama.

Kelompok-kelompok HAM sipil jugua turut mengkritik kebijakan pejabat bandara yang memutuskan untuk melarang wanita muslimah ikut dalam penerbangan mereka.

“Orang-orang tidak perlu mengorbankan kesehatan mereka, iman mereka, martabat mereka, atau privasi mereka dalam rangka untuk terbang,” Alex Deane, direktur Big Brother Watch, kepada Courier Mail.

“Orang-orang dengan alasan kesehatan dan agama tidak boleh dipaksa untuk pergi melalui scanner ini jika mereka memiliki alasan tepat untuk tidak melakukannya.”
Komisi Hak Asasi Manusia dan Kesetaraan (EHRC) telah memperingatkan bahwa scanner ini melanggar undang-undang privasi dan pelanggaran diskriminasi ras dan agama.

[muslimdaily.net/iol]